Minggu, 05 Juni 2022

Berukhuwah Dalam Naungan Dakwah

Lama saya berpikir dan merenung untuk sekedar mendapat jawaban. Di setiap momen yang terjadi selalu saja banyak hal yang dapat kita ambil, meski itu perlu sebuah proses perenungan panjang. Sekali lagi saya ingin berbicara tentang kita saudaraku, tentang ukhuwah....


Dan semua dari sinilah berawal...
Apa yang sesungguhnya sedang kita cari?
Akhirnya, lembar-lembar Dalam Dekapan Ukhuwah-nya Ustad Salim saya buka kembali. Saya mencari-cari lagi bagian mana yang sesungguhnya telah hilang.

Sepenggal pengertian pada saudara itu yang sering kali hilang. Kita tak pernah mampu menerima dengan lapang dada kekurangan saudara kita. Bukankah itu adalah tingkatan ukhuwah yang paling rendah? Dan jika itupun kita tak punya, lantas apa sebenarnya yang tersisa pada diri kita? Terlebih sering kita menuntut orang lain,saudara kita itu untuk tak ada salah. Begitu egois kita menuntut mereka untuk tak boleh ada cacat sedikitpun. "Antum itu kader dakwah!"Alasan itu yang sering kali menjadi sebuah pembenaran bagi kita untuk menghakimi saudara kita yang bersalah.

Jika kita berbicara idealitas maka itu yang memang harus diupayakan oleh setiap kader dakwah jangan sampai membuat kesalahan yang merusak nama baik dakwah. Tetapi kita tak boleh lupa akan satu hal,saudara kita itu betapapun shalihnya ia, betapapun kuat hafalannya dll, ia tetaplah manusia!Mereka bukanlah malaikat yang tak bercela, mereka bukanlah manusia seperti Rasulullah saw yang ma'shum. Manusia tetaplah manusia yang berpotensi benar dan salah. Ketika kita menghakimi ia berlebihan atas secuil kesalahannya, maka pada titik itu kita mungkin sudah lupa akan sisi kemanusiaannya.

Saya tidak sedang mencari sebuah pembenaran buat mereka yang pernah bersalah atau pembenaran buat diri ini yang tentu banyak sekali khilafnya.Tetapi saat-saat dimana penuntutan pada saudara itu juga pernah terjadi pada diri ini. Ya, hingga akhirnya tarbiyah itu mendewasakan jiwa yang kanak-kanak menuju kedewasaan dalam berjama'ah.Saat itu terjadi adalah saat-saat dimana kekecewaan membuncah. Saat itulah kita membuka ruang untuk syaitan merusak hubungan persaudaraan.

Dalam dekapan ukhuwah, kita memandang cinta sebagai sebuah kerja penjagaan. Cinta adalah sebuah kerja yang berat, karena itu berhati-hatilah dalam mengucapkan kepada siapapun itu. Ketika kita telah mengucap, "Ana uhibbuka fillah ya Akhi" saat itulah kita sedang berikrar untuk menjaganya. Cinta itu menjaga, cinta itu merawat. Maka sesungguhnya cinta kita dalam dekapan ukhuwah adalah untuk menjaga mereka saudara kita yang kita cintai di jalan Allah.

Nasihat yang tulus dari seorang Al Akh harus dipandang sebagai pembuktian cinta. Bagaimana mungkin orang yang tak mencintai mau menasihati, memberi kepedulian akan diri kita?Atau saat kita harus mengingatkan mereka yang bersalah.Saat kita diam maka pada titik ini cinta kita pada mereka sebagai saudara patut untuk dipertanyakan.

Sekali lagi saya mengingatkan, kita adalah kumpulan manusia yang berpotensi salah dan benar. Karena itu saling menasihati harus menjadi sebuah budaya yang mengakar apalagi untuk komunitas yang bekerja untuk dakwah. Dan tentu, kita juga harus siap menerima kekurangan saudara kita nantinya.

Sabtu, 19 Januari 2019

Visi Menemani Sebelum Cahaya

                                                                                    
Visi adalah masa depan yang tak terbatas.Visi lebih besar darpada sejarah,lebih besar daripada beban kita,lebih besar dari luka emosi kita di masa lampau.Dengan visi, kita membangun sebuah gambaran ideal dalam perspektif jangka panjang.Ada satu lukisan bening yang kita coretkan di sana tentang mimpi, harapan, dan cita-cita kita.Akal kita dipenuhi pertimbangan, lalu melompat, berpikir di luar kotak secara strategis untuk mengantisipasi masa depan.
Meski di sekitar kita gelap pekat, visi yang bersinar terang di kejauhan akan memberi kita arah.Ia ada di sana,bercahaya.Kita akan tetap menujunya meski harus merangkak, terantuk,terjerembab, dan kadang terperosok.Tapi pasti, di antara berbagai kejatuhan itu akan ada saat di mana kita bisa berlari, meloncat, bahkan melayang dan terbang.Sementara mereka yang tanpa visi akan berdiri,berjongkok, berputar-putar dan menggigit jari.
Ia yang punya keyakinan kuat pada visinya akan tertuntun, dan kesulitan-kesulitan pun melandai memberi jalan padanya.Ia yang tak yakin pada visinya akan sangat mudah menemukan alasan untuk berhenti.Perjalanan yang sulit.Bekal yang sedikit.Jarak yang selangit.Bagi mereka, alasan-alasan ini akan datang sendiri tanpa dicari.Karena selalu ada bagian jalan yang mendaki.Selalu ada bagian laut yang berbadai.
Mereka yang visinya kuat akan selalu bertekad mengerahkan semua potensi demi mengatasi tantangan, kesulitan, dan penghalang.Mereka selalu percaya bahwa beserta kesulitan selalu ada kemudahan.Maka mereka terus berupaya, menyelesaikan satu kerja lalu beralih pada kewajiban lainnya.Dan mereka selalu memiliki harapan pada Sang Pemilik Kekuatan.
Masihkah kita teringat akan cerita anak kecil yang menggambar seekor anak paus bongkok tepat sesuai ukuran aslinya di atas kertas A3 yang jumlahnya mencapai 400 kertas?Gambar yang awal-awalnya sempat membuat orang tuanya cemas dan bahkan sampai membawanya ke psikiater.Tapi ternyata ketika 400 lembar gambar hitamnya itu di susun jadilah ia gambar seekor anak paus bongkok tepat sesuai dengan ukuran aslinya.Dia tak seperti teman-temannya yang lain yang hanya menggambar 'biasa-biasa' saja.Ia ingin agar gambar anak paus bongkoknya sesuai ukuran 'aslinya'.Ia berpikir besar.Awalnya dia tak dipahami, di anggap aneh, bahkan harus diserahkan ke para psikiater.Tapi akhirnya semua orang takjub kepadanya.Mungkin begitulah RESIKO BERPIKIR BESAR.Disalahpahami.Lalu dikagumi.
Maka dengan lantang akan ku teriakkan pada dunia,"BERPIKIR BESARLAH dan jangan takut untuk bermimpi.Bermimpilah yang tinggi.Tak ada seorang pun yang berhak melarangmu.Karena ialah yang akan menjadi kekuatanmu untuk melangkah.Ialah yang akan menyinari langkah-langkahmu."
Dan ingin sekali ku katakan pada mereka yang begitu takut untuk bermimpi atau bahkan yang meremehkan mimpi seseorang,"Israel juga lahir karena mimpi seorang Theodore Hertzel yang dijadikannya cita-cita pada tahun 1898, yang pada awalnya ia ditertawakan.Tapi 50 tahun setelahnya berdirilah Israel pada tahun 1948.Meskipun keji, cita-citanya terbukti.Sedangkan kita yang dibesarkan oleh nafas keislaman kenapa harus takut bermimpi!!! Bermimpilah dan jadikan ia cita-cita"
Ketika berpikir kecil beresiko mudah tergoda, rentan menoleh, dan gampang berpaling;di jalan cinta pejuang kita hanya layak berurusan dengan hal-hal yang besar.Atau setidaknya memikirkan hal-hal yang besar.Di dalam pikiran yang setitik harus dijadikan lautan.Yang sekepal harus jadi gunung.
Dalam menatap visi kita butuh kebeningan hati, sehingga visi kita menjadi bening.Seperti Sultan Muhammad Al Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel,visi yang bening menguasainya sehingga membuatnya mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya.Visi bening yang diperolehnya dari hadist Rasulullah tentang penaklukan kota Heraclius bahwa yang menaklukan adalah sebaik-baik pasukan dan pemimpinnya adalah sebaik-baik panglima.Visi yang melahirkan obsesi, bukan obsesi yang mengeruhkan melainkan obsesi yang makin membeningkan hatinya.Visi yang bening membuatnya mampu melakukan hal-hal yang tak dinyana manusia.Seperti ketika dengan kayu gelondongan  yang dilumuri lemak sapi, diseberangkan kapal-kapal perang ke perairan Konstantinopel lewat darat karena sebelumnya sulit di tembus dari perairan.
Di jalan cinta pejuang kita membutuhkan visi yang bening untuk mengokohkan jiwa dan merambatkan cita...
Jika visi dan tujuan kita sebagai muslim mujahid di jalan cinta pejuang ini jelas, seluruh alam semesta yang bertasbih memuji Allah itu pasti akan membantu kita.Tetapi jika tujuan kita kabur, bahkan yang sangat ingin membantu pun jadi bingung, jadi tak tahu apa yang bisa dibantu,kapan harus membantu dan bagaimana caranya untuk membantu.
Kebeningan merambatkan cita kita agar didengar dunia.Maka alam semesta yang bertasbih memuji Allah ini akan bergegas menjadi sekutu-sekutunya yang meledakkan semangat kebaikan.
Mimpi adalah bagian terindah dan terendah dari visi.Jika kita hendak menaikkannya satu aras, jadikanlah ia cita-cita.Cita-cita adalah mimpi yang bertanggal.Cita-cita adalah mimpi yang sudah kita tentukan waktu mewujudkannya.
Mimpi adalah kenyataan hari esok, kata Hasan Al Banna.Di jalan cinta para pejuang mungkin kita terjaga sebelum mimpi kita selesai.Dan tugas kitalah untuk segera bangun, bangkit menyelesaikannya di dunia nyata.
Visi di jalan cinta pejuang awal-awal bermodal kesadaran.Sadar bahwa kita adalah manusia yang akan menuntun kita memanfaatkan berjuta karunia Allah Ta'aalaa untuk mengabdi kepada-Nya.Sadar bahwa kita adalah seorang muslim memandu kita untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.
Dan di akhir ini, ingin kusampaikan sebuah kalimat yang akan menjadi suluh nan jauh di depan sana."Masa depan milik Islam".Di jalan cinta para pejuang kalimat itulah yang akan menemani kita dalam perjuangan sekaligus menjadi suluh yang terang.Sungguh, hanya dengan visi yang besar, tinggi, dan bening kita bisa menyusulnya.Maka pandanglah ke ujung perjalanan.Dan, mari kita bergegas berangkat...
Di tulis dari serpihan-serpihan "Jalan Cinta Para Pejuang"