Lama saya berpikir dan merenung untuk sekedar mendapat jawaban. Di setiap momen yang terjadi selalu saja banyak hal yang dapat kita ambil, meski itu perlu sebuah proses perenungan panjang. Sekali lagi saya ingin berbicara tentang kita saudaraku, tentang ukhuwah....
Dan semua dari sinilah berawal...
Apa yang sesungguhnya sedang kita cari?
Akhirnya, lembar-lembar Dalam Dekapan Ukhuwah-nya Ustad Salim saya buka kembali. Saya mencari-cari lagi bagian mana yang sesungguhnya telah hilang.
Sepenggal pengertian pada saudara itu yang sering kali hilang. Kita tak pernah mampu menerima dengan lapang dada kekurangan saudara kita. Bukankah itu adalah tingkatan ukhuwah yang paling rendah? Dan jika itupun kita tak punya, lantas apa sebenarnya yang tersisa pada diri kita? Terlebih sering kita menuntut orang lain,saudara kita itu untuk tak ada salah. Begitu egois kita menuntut mereka untuk tak boleh ada cacat sedikitpun. "Antum itu kader dakwah!"Alasan itu yang sering kali menjadi sebuah pembenaran bagi kita untuk menghakimi saudara kita yang bersalah.
Jika kita berbicara idealitas maka itu yang memang harus diupayakan oleh setiap kader dakwah jangan sampai membuat kesalahan yang merusak nama baik dakwah. Tetapi kita tak boleh lupa akan satu hal,saudara kita itu betapapun shalihnya ia, betapapun kuat hafalannya dll, ia tetaplah manusia!Mereka bukanlah malaikat yang tak bercela, mereka bukanlah manusia seperti Rasulullah saw yang ma'shum. Manusia tetaplah manusia yang berpotensi benar dan salah. Ketika kita menghakimi ia berlebihan atas secuil kesalahannya, maka pada titik itu kita mungkin sudah lupa akan sisi kemanusiaannya.
Saya tidak sedang mencari sebuah pembenaran buat mereka yang pernah bersalah atau pembenaran buat diri ini yang tentu banyak sekali khilafnya.Tetapi saat-saat dimana penuntutan pada saudara itu juga pernah terjadi pada diri ini. Ya, hingga akhirnya tarbiyah itu mendewasakan jiwa yang kanak-kanak menuju kedewasaan dalam berjama'ah.Saat itu terjadi adalah saat-saat dimana kekecewaan membuncah. Saat itulah kita membuka ruang untuk syaitan merusak hubungan persaudaraan.
Dalam dekapan ukhuwah, kita memandang cinta sebagai sebuah kerja penjagaan. Cinta adalah sebuah kerja yang berat, karena itu berhati-hatilah dalam mengucapkan kepada siapapun itu. Ketika kita telah mengucap, "Ana uhibbuka fillah ya Akhi" saat itulah kita sedang berikrar untuk menjaganya. Cinta itu menjaga, cinta itu merawat. Maka sesungguhnya cinta kita dalam dekapan ukhuwah adalah untuk menjaga mereka saudara kita yang kita cintai di jalan Allah.
Nasihat yang tulus dari seorang Al Akh harus dipandang sebagai pembuktian cinta. Bagaimana mungkin orang yang tak mencintai mau menasihati, memberi kepedulian akan diri kita?Atau saat kita harus mengingatkan mereka yang bersalah.Saat kita diam maka pada titik ini cinta kita pada mereka sebagai saudara patut untuk dipertanyakan.
Sekali lagi saya mengingatkan, kita adalah kumpulan manusia yang berpotensi salah dan benar. Karena itu saling menasihati harus menjadi sebuah budaya yang mengakar apalagi untuk komunitas yang bekerja untuk dakwah. Dan tentu, kita juga harus siap menerima kekurangan saudara kita nantinya.
