Tampilkan postingan dengan label Jalan Cinta Para Pejuang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan Cinta Para Pejuang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Januari 2019

Visi Menemani Sebelum Cahaya

                                                                                    
Visi adalah masa depan yang tak terbatas.Visi lebih besar darpada sejarah,lebih besar daripada beban kita,lebih besar dari luka emosi kita di masa lampau.Dengan visi, kita membangun sebuah gambaran ideal dalam perspektif jangka panjang.Ada satu lukisan bening yang kita coretkan di sana tentang mimpi, harapan, dan cita-cita kita.Akal kita dipenuhi pertimbangan, lalu melompat, berpikir di luar kotak secara strategis untuk mengantisipasi masa depan.
Meski di sekitar kita gelap pekat, visi yang bersinar terang di kejauhan akan memberi kita arah.Ia ada di sana,bercahaya.Kita akan tetap menujunya meski harus merangkak, terantuk,terjerembab, dan kadang terperosok.Tapi pasti, di antara berbagai kejatuhan itu akan ada saat di mana kita bisa berlari, meloncat, bahkan melayang dan terbang.Sementara mereka yang tanpa visi akan berdiri,berjongkok, berputar-putar dan menggigit jari.
Ia yang punya keyakinan kuat pada visinya akan tertuntun, dan kesulitan-kesulitan pun melandai memberi jalan padanya.Ia yang tak yakin pada visinya akan sangat mudah menemukan alasan untuk berhenti.Perjalanan yang sulit.Bekal yang sedikit.Jarak yang selangit.Bagi mereka, alasan-alasan ini akan datang sendiri tanpa dicari.Karena selalu ada bagian jalan yang mendaki.Selalu ada bagian laut yang berbadai.
Mereka yang visinya kuat akan selalu bertekad mengerahkan semua potensi demi mengatasi tantangan, kesulitan, dan penghalang.Mereka selalu percaya bahwa beserta kesulitan selalu ada kemudahan.Maka mereka terus berupaya, menyelesaikan satu kerja lalu beralih pada kewajiban lainnya.Dan mereka selalu memiliki harapan pada Sang Pemilik Kekuatan.
Masihkah kita teringat akan cerita anak kecil yang menggambar seekor anak paus bongkok tepat sesuai ukuran aslinya di atas kertas A3 yang jumlahnya mencapai 400 kertas?Gambar yang awal-awalnya sempat membuat orang tuanya cemas dan bahkan sampai membawanya ke psikiater.Tapi ternyata ketika 400 lembar gambar hitamnya itu di susun jadilah ia gambar seekor anak paus bongkok tepat sesuai dengan ukuran aslinya.Dia tak seperti teman-temannya yang lain yang hanya menggambar 'biasa-biasa' saja.Ia ingin agar gambar anak paus bongkoknya sesuai ukuran 'aslinya'.Ia berpikir besar.Awalnya dia tak dipahami, di anggap aneh, bahkan harus diserahkan ke para psikiater.Tapi akhirnya semua orang takjub kepadanya.Mungkin begitulah RESIKO BERPIKIR BESAR.Disalahpahami.Lalu dikagumi.
Maka dengan lantang akan ku teriakkan pada dunia,"BERPIKIR BESARLAH dan jangan takut untuk bermimpi.Bermimpilah yang tinggi.Tak ada seorang pun yang berhak melarangmu.Karena ialah yang akan menjadi kekuatanmu untuk melangkah.Ialah yang akan menyinari langkah-langkahmu."
Dan ingin sekali ku katakan pada mereka yang begitu takut untuk bermimpi atau bahkan yang meremehkan mimpi seseorang,"Israel juga lahir karena mimpi seorang Theodore Hertzel yang dijadikannya cita-cita pada tahun 1898, yang pada awalnya ia ditertawakan.Tapi 50 tahun setelahnya berdirilah Israel pada tahun 1948.Meskipun keji, cita-citanya terbukti.Sedangkan kita yang dibesarkan oleh nafas keislaman kenapa harus takut bermimpi!!! Bermimpilah dan jadikan ia cita-cita"
Ketika berpikir kecil beresiko mudah tergoda, rentan menoleh, dan gampang berpaling;di jalan cinta pejuang kita hanya layak berurusan dengan hal-hal yang besar.Atau setidaknya memikirkan hal-hal yang besar.Di dalam pikiran yang setitik harus dijadikan lautan.Yang sekepal harus jadi gunung.
Dalam menatap visi kita butuh kebeningan hati, sehingga visi kita menjadi bening.Seperti Sultan Muhammad Al Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel,visi yang bening menguasainya sehingga membuatnya mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya.Visi bening yang diperolehnya dari hadist Rasulullah tentang penaklukan kota Heraclius bahwa yang menaklukan adalah sebaik-baik pasukan dan pemimpinnya adalah sebaik-baik panglima.Visi yang melahirkan obsesi, bukan obsesi yang mengeruhkan melainkan obsesi yang makin membeningkan hatinya.Visi yang bening membuatnya mampu melakukan hal-hal yang tak dinyana manusia.Seperti ketika dengan kayu gelondongan  yang dilumuri lemak sapi, diseberangkan kapal-kapal perang ke perairan Konstantinopel lewat darat karena sebelumnya sulit di tembus dari perairan.
Di jalan cinta pejuang kita membutuhkan visi yang bening untuk mengokohkan jiwa dan merambatkan cita...
Jika visi dan tujuan kita sebagai muslim mujahid di jalan cinta pejuang ini jelas, seluruh alam semesta yang bertasbih memuji Allah itu pasti akan membantu kita.Tetapi jika tujuan kita kabur, bahkan yang sangat ingin membantu pun jadi bingung, jadi tak tahu apa yang bisa dibantu,kapan harus membantu dan bagaimana caranya untuk membantu.
Kebeningan merambatkan cita kita agar didengar dunia.Maka alam semesta yang bertasbih memuji Allah ini akan bergegas menjadi sekutu-sekutunya yang meledakkan semangat kebaikan.
Mimpi adalah bagian terindah dan terendah dari visi.Jika kita hendak menaikkannya satu aras, jadikanlah ia cita-cita.Cita-cita adalah mimpi yang bertanggal.Cita-cita adalah mimpi yang sudah kita tentukan waktu mewujudkannya.
Mimpi adalah kenyataan hari esok, kata Hasan Al Banna.Di jalan cinta para pejuang mungkin kita terjaga sebelum mimpi kita selesai.Dan tugas kitalah untuk segera bangun, bangkit menyelesaikannya di dunia nyata.
Visi di jalan cinta pejuang awal-awal bermodal kesadaran.Sadar bahwa kita adalah manusia yang akan menuntun kita memanfaatkan berjuta karunia Allah Ta'aalaa untuk mengabdi kepada-Nya.Sadar bahwa kita adalah seorang muslim memandu kita untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.
Dan di akhir ini, ingin kusampaikan sebuah kalimat yang akan menjadi suluh nan jauh di depan sana."Masa depan milik Islam".Di jalan cinta para pejuang kalimat itulah yang akan menemani kita dalam perjuangan sekaligus menjadi suluh yang terang.Sungguh, hanya dengan visi yang besar, tinggi, dan bening kita bisa menyusulnya.Maka pandanglah ke ujung perjalanan.Dan, mari kita bergegas berangkat...
Di tulis dari serpihan-serpihan "Jalan Cinta Para Pejuang"