Visi
adalah masa depan yang tak terbatas.Visi lebih besar darpada
sejarah,lebih besar daripada beban kita,lebih besar dari luka emosi kita
di masa lampau.Dengan visi, kita membangun sebuah gambaran ideal dalam
perspektif jangka panjang.Ada satu lukisan bening yang kita coretkan di
sana tentang mimpi, harapan, dan cita-cita kita.Akal kita dipenuhi
pertimbangan, lalu melompat, berpikir di luar kotak secara strategis
untuk mengantisipasi masa depan.
Meski
di sekitar kita gelap pekat, visi yang bersinar terang di kejauhan akan
memberi kita arah.Ia ada di sana,bercahaya.Kita akan tetap menujunya
meski harus merangkak, terantuk,terjerembab, dan kadang terperosok.Tapi
pasti, di antara berbagai kejatuhan itu akan ada saat di mana kita bisa
berlari, meloncat, bahkan melayang dan terbang.Sementara mereka yang
tanpa visi akan berdiri,berjongkok, berputar-putar dan menggigit jari.
Ia
yang punya keyakinan kuat pada visinya akan tertuntun, dan
kesulitan-kesulitan pun melandai memberi jalan padanya.Ia yang tak yakin
pada visinya akan sangat mudah menemukan alasan untuk
berhenti.Perjalanan yang sulit.Bekal yang sedikit.Jarak yang
selangit.Bagi mereka, alasan-alasan ini akan datang sendiri tanpa
dicari.Karena selalu ada bagian jalan yang mendaki.Selalu ada bagian
laut yang berbadai.
Mereka
yang visinya kuat akan selalu bertekad mengerahkan semua potensi demi
mengatasi tantangan, kesulitan, dan penghalang.Mereka selalu percaya
bahwa beserta kesulitan selalu ada kemudahan.Maka mereka terus berupaya,
menyelesaikan satu kerja lalu beralih pada kewajiban lainnya.Dan mereka
selalu memiliki harapan pada Sang Pemilik Kekuatan.
Masihkah
kita teringat akan cerita anak kecil yang menggambar seekor anak paus
bongkok tepat sesuai ukuran aslinya di atas kertas A3 yang jumlahnya
mencapai 400 kertas?Gambar yang awal-awalnya sempat membuat orang tuanya
cemas dan bahkan sampai membawanya ke psikiater.Tapi ternyata ketika
400 lembar gambar hitamnya itu di susun jadilah ia gambar seekor anak
paus bongkok tepat sesuai dengan ukuran aslinya.Dia tak seperti
teman-temannya yang lain yang hanya menggambar 'biasa-biasa' saja.Ia
ingin agar gambar anak paus bongkoknya sesuai ukuran 'aslinya'.Ia
berpikir besar.Awalnya dia tak dipahami, di anggap aneh, bahkan harus
diserahkan ke para psikiater.Tapi akhirnya semua orang takjub
kepadanya.Mungkin begitulah RESIKO BERPIKIR BESAR.Disalahpahami.Lalu
dikagumi.
Maka
dengan lantang akan ku teriakkan pada dunia,"BERPIKIR BESARLAH dan
jangan takut untuk bermimpi.Bermimpilah yang tinggi.Tak ada seorang pun
yang berhak melarangmu.Karena ialah yang akan menjadi kekuatanmu untuk
melangkah.Ialah yang akan menyinari langkah-langkahmu."
Dan
ingin sekali ku katakan pada mereka yang begitu takut untuk bermimpi
atau bahkan yang meremehkan mimpi seseorang,"Israel juga lahir karena
mimpi seorang Theodore Hertzel yang dijadikannya cita-cita pada tahun
1898, yang pada awalnya ia ditertawakan.Tapi 50 tahun setelahnya
berdirilah Israel pada tahun 1948.Meskipun keji, cita-citanya
terbukti.Sedangkan kita yang dibesarkan oleh nafas keislaman kenapa
harus takut bermimpi!!! Bermimpilah dan jadikan ia cita-cita"
Ketika
berpikir kecil beresiko mudah tergoda, rentan menoleh, dan gampang
berpaling;di jalan cinta pejuang kita hanya layak berurusan dengan
hal-hal yang besar.Atau setidaknya memikirkan hal-hal yang besar.Di
dalam pikiran yang setitik harus dijadikan lautan.Yang sekepal harus
jadi gunung.
Dalam
menatap visi kita butuh kebeningan hati, sehingga visi kita menjadi
bening.Seperti Sultan Muhammad Al Fatih, Sang Penakluk
Konstantinopel,visi yang bening menguasainya sehingga membuatnya
mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya.Visi bening yang
diperolehnya dari hadist Rasulullah tentang penaklukan kota Heraclius
bahwa yang menaklukan adalah sebaik-baik pasukan dan pemimpinnya adalah
sebaik-baik panglima.Visi yang melahirkan obsesi, bukan obsesi yang
mengeruhkan melainkan obsesi yang makin membeningkan hatinya.Visi yang
bening membuatnya mampu melakukan hal-hal yang tak dinyana
manusia.Seperti ketika dengan kayu gelondongan yang dilumuri lemak
sapi, diseberangkan kapal-kapal perang ke perairan Konstantinopel lewat
darat karena sebelumnya sulit di tembus dari perairan.
Di jalan cinta pejuang kita membutuhkan visi yang bening untuk mengokohkan jiwa dan merambatkan cita...
Jika
visi dan tujuan kita sebagai muslim mujahid di jalan cinta pejuang ini
jelas, seluruh alam semesta yang bertasbih memuji Allah itu pasti akan
membantu kita.Tetapi jika tujuan kita kabur, bahkan yang sangat ingin
membantu pun jadi bingung, jadi tak tahu apa yang bisa dibantu,kapan
harus membantu dan bagaimana caranya untuk membantu.
Kebeningan
merambatkan cita kita agar didengar dunia.Maka alam semesta yang
bertasbih memuji Allah ini akan bergegas menjadi sekutu-sekutunya yang
meledakkan semangat kebaikan.
Mimpi
adalah bagian terindah dan terendah dari visi.Jika kita hendak
menaikkannya satu aras, jadikanlah ia cita-cita.Cita-cita adalah mimpi
yang bertanggal.Cita-cita adalah mimpi yang sudah kita tentukan waktu
mewujudkannya.
Mimpi
adalah kenyataan hari esok, kata Hasan Al Banna.Di jalan cinta para
pejuang mungkin kita terjaga sebelum mimpi kita selesai.Dan tugas
kitalah untuk segera bangun, bangkit menyelesaikannya di dunia nyata.
Visi
di jalan cinta pejuang awal-awal bermodal kesadaran.Sadar bahwa kita
adalah manusia yang akan menuntun kita memanfaatkan berjuta karunia
Allah Ta'aalaa untuk mengabdi kepada-Nya.Sadar bahwa kita adalah seorang
muslim memandu kita untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.
Dan
di akhir ini, ingin kusampaikan sebuah kalimat yang akan menjadi suluh
nan jauh di depan sana."Masa depan milik Islam".Di jalan cinta para
pejuang kalimat itulah yang akan menemani kita dalam perjuangan
sekaligus menjadi suluh yang terang.Sungguh, hanya dengan visi yang
besar, tinggi, dan bening kita bisa menyusulnya.Maka pandanglah ke ujung
perjalanan.Dan, mari kita bergegas berangkat...
Di tulis dari serpihan-serpihan "Jalan Cinta Para Pejuang"
